Posts

Showing posts from March, 2012

Kampanye Seni Islami lewat Festival

SUARA MERDEKA, 29/03/2012

NGALIYAN- Senin (26/03/2012) Jamiyyahtul Qurra wal Huffadz (JQH) el-Fasya Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang menggelar ’’Gebyar Festival Islami’’ di auditorium II kampus 3 IAIN Walisongo. Acara yang bertajuk ’’Menyongsong Pendewasaan Sastra dan Seni Islami’’ itu dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke-17 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH el-Fasya.

Festival yang digelar meliputi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat SLTA Se-Jateng, festival rebana klasik untuk umum dan kaligrafi untuk umum. Ada juga agenda istighotsah bersama, bazar islami, dan temu alumni UKM JQH el-Fasya. Acara berlangsung mulai pukul 08.00 WIB. Peserta dari SLTA dan perguruan tinggi di Jateng sangat antusias mengikuti acara tersebut. Sekitar 20 grup rebana telah mendaftarkan diri sebagai peserta. Sedangkan peserta pada lomba kaligrafi mencapai 26 orang dan peserta MTQ sebanyak 30 orang.

Ketua panitia, Ahmad Anwar mengatakan, festival tersebut digelar atas keprihatian JQH ter…

Kampanye Kesalehan Intelektual

PIKIRAN MERDEKA, 28/03/2012


DUNIA akademik baru saja gempar. Bagaimana tidak, di saat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) mendengung-dengungkan kebijakan publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa, malah ada akademisi yang melakukan plagiasi.  
Ya, tiga dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terbukti melakukan plagiasi. Kasus itu diketahui Ditjen Dikti karena ada kejanggalan pada karya ilmiah yang diajukan sebagai permohonan pengukuhan guru besar (Kompas, 5/3/2012). 

Sungguh ironis, calon kandidat guru besar melakukan hal yang tak patut ditiru. Apa pun bentuknya, plagiasi adalah kejahatan intelektual. Tindakan yang tegas harus diambil untuk memberi sanksi kepada para pelakunya.

Saya sepakat dengan Senat Akademik UPI yang memutuskan penurunan pangkat dan jabatan kepada tiga dosen plagiator itu. Putusan itu masih tergolong sedang jika dirunut dari Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Ditjen Dikti menemukan adanya…

Pengumuman Lomba Karikatur LPM ARENA 2012

10 Karya Terbaik Lomba Karikatur LPM ARENA UIN Sunan Kalijaga
JUARA I: 
“Salah Siapa?!”, Karya Usman Harun Darmawan, Fak. Seni Rupa ISI YK
JUARA II: 
“Sang Mafia” Karya Galuh Prasetyo, Ilmu Hukum UNTAG Semarang
JUARA III: 
“Tak Ada Lahan” Karya Ririn Hadi Sucipto, Pendidikan Seni Rupa/ UST YG
KARYA IV-X:
”Undang-Undang Tanpa Makna” Karya Galuh Prasetio, Ilmu Hukum UNTAG Semarang
“Kembalikan Lahanku” Karya Agung Sulystia, Pend. Seni Rupa UNS
“Petani Dan Cengkraman Kapitalis” Karya Abdul Arif, Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
“Kelangan” Karya Sukron, Jurusan Seni rupa UNY
“Mafia Agraria” Karya Agam akbar pahala, Pend. Seni Rupa UNY
“Gurita Darat” Karya Sukron, Jurusan Seni rupa UNY
“Asiknya Memancing” Karya Hanung B. Yuniawan, Pendidikan Seni Rupa/ UST YG
Catatan:
1. Aspek artistik merupakan dunia-bentuk dari karya karikatur tersebut. Di dalamnya mencakup banyak unsur seperti teknik pengungkapan secara visual, komposisi, teknik pewarnaan, penciptaan karakter atau tokoh berikut kekayaan gesture, hingga …

Semangat Lir-ilir

Siapa yang tak kenal lagu Lir-ilir? Lagu yang diciptakan Sunan Kalijogo ini bukan sekadar lagu dolanan. Di dalamnya terkandung makna yang amat dalam. Lir-ilir artinya bangunlah atau sadarlah. Kiranya semangat yang diusung lagu Lir-ilir ini perlu kita pekikkan lagi dalam mengiringi pembangunan negeri ini . Semboyan right or wrong is my country menunjukkan kita sebagai manusia yang lemah. Padahal kita bukanlah bangsa yang lemah. Selama tiga abad lebih, bangsa ini berjuang keras melawan penjajah. Darah dan harta menjadi tumbal untuk sebuah pekikan “merdeka”. Selanjutnya adalah tugas kita menjaga pekikan itu. Lir-ilir cocok untuk mengisi kemerdekaan. Kondisi Indonesia saat ini sangat carut-marut. Wakil rakyat banyak yang terlibat korupsi, pemimpin yang dhalim, kekerasan terjadi di mana-mana dan  bencana yang tiada henti melanda. Semakin hari permasalahan kian kompleks. Namun semua itu pasti ada solusinya jika kita memang benar-benar berusaha mencarinya. Sebagai bangsa yang besar kita harus b…

Menjadi Generasi Apolitis

“Bangsa Indonesia Tersandera”. Begitu bunyi sebuah judul berita di sebuah surat kabar Nasional. Ya, Indonesia saat ini tengah tersandera. Bukan oleh bangsa lain, tetapi oleh orang kita sendiri. Yang menjadi ironi, orang-orang itu adalah orang-orang yang kita pilih sendiri!
Demokrasi yang telah diamalkan di Indonesia, memberi kesempatan kepada rakyat untuk memilih sendiri siapa yang menjadi pemimpinnya. Idealnya, orang terpilih itu mampu menjadi ”ikhtiar” rakyat untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan, pendidikan, dan kehidupan yang lebih baik. Tapi apa yang didapatkan sekarang? Penyandang amanat rakyat itu tak sungguh-sungguh mewujudkan substansi demokrasi.
Mereka terjebak dalam politik pencitraan. Mencuri perhatian rakyat dengan angan-angan menggiurkan. Mengumbar sesuatu yang hanya tampak dari luar.
Keadaan yang karut seperti itu meniscayakan rakyat tak lagi percaya pada pemerintah. Lebih parah, rakyat tak lagi merasa punya negara!
Kenapa tidak? Rakyat harus berjuang sendiri untuk  bi…

Bentuk Satgas Antimafia

MEDIA INDONESIA, Opini Publik 119

Ingatan kita tentu masih segar tentang perjalanan Gayus Tambunan. Gayus yang berstatus tahanan bisa leluasa plesiran keluar negeri.  Hal ini karena ada mafia di Ditjen Imigrasi yang terlibat dalam pemalsuan paspor. Ya, Gayus yang seharusnya mendekam di balik jeruji besi bisa bebas dengan nama palsu Sony Laksono.

Melihat kasus tersebut, sepertinya mafia imigrasi sudah sistematis. Keterlibatan antara oknum satu dengan yang lainnya sudah menjadi jejaring yang kuat. Sulit sekali untuk mengurainya. Maka satu-satunya jalan adalah menuntut ketegasan Menteri Hukum dan HAM (menkumham), sebab kantor imigrasi berada di bawah tanggungjawabnya.

Menkumham harus segera menentukan langkah jitu membasmi mafia yang menggerogoti tubuh Ditjen Imigrasi. Pembentukan satgas antimafia di tubuh imigrasi sangat dibutuhkan agar bisa kembali bersih.

Satgas ini nantinya bertugas mengoordinasikan upaya pencegahan terhadap penyelewengan di imigrasi. Memantau ketat pelaksanaan keim…

Perlu Mengkaji Ulang Putusan Mahkamah Konstitusi

REPUBLIKA, 15 Maret 2012

Membaca tajuk Republika (08/03/2012) yang membahas putus -
an Mahkamah Konstitusi (MK) menyangkut status anak di luar per -
nikahan dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
sangat menarik. Hemat saya, putusan tersebut perlu dikaji ulang.
Pasalnya, putusan tersebut masih mengandung multitafsir. Dikha -
watirkan hal ini bakal menimbulkan salah penafsiran di kalangan
masyarakat awam.

Barangkali, putusan MK adalah demi menegakkan perlindu ng -
an anak di luar nikah. Namun, akan menjadi problem besar ketika
putusan ini ditafsirkan sebagai alat untuk melegalkan per zina an.
Memang, wakil ketua MK Achmad Sodiki telah menegaskan bahwa
putusan itu tidak menyoal sah atau tidaknya perkawinan. Tetapi,
putusan tersebut hendaknya dibuat setegas mungkin. Seyogianya
MK menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI), NU, Muhamma -
diyah, dan ormas berkompeten lainnya. Sebab, perkara ini me -
nyangkut hukum agama.

M Abdul Arif
Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang

Optimalisasi Sistem Drainase

MEDIA INDONESIA, 12 Maret 2012

Ketika musim hujan, yang dikhawatirkan berbagai kalangan adalah terjadinya banjir. Ya, hujan lagi, banjir lagi di mana-mana. Seolah banjir menjadi rutinitas tahunan yang tak bisa dihentikan. Menjadi ironi ketika pemerintah maupun masyarakat tak bisa menyelesaikan persoalan banjir. Padahal, banjir adalah persoalan klasik.

Penyebabnya tentu sangat kompleks. Perombakan tata ruang menjadi problem paling berpengaruh.  Penjarahan pepohonan di pegunungan untuk dijadikan villa dan pemukiman menjadikan lahan kritis. Lahan berpotensi longsor, sehingga terjadi proses sedimentasi di sungai. Hal ini berakibat pendangkalan sungai.  Alhasil, ketika musim hujan tiba, debit air tak bisa ditampung sungai dan meluap ke mana-mana.

Selain itu, pembangunan besar-besaran di kota juga semakin mengikis keberadaan tanah terbuka. Banyak tanah yang ditutup dengan material, sehingga daya resap tanah semakin minim. Ini akan menyulitkan upaya pencegahan banjir.

Jika sudah separah itu, pem…

Memiskinkan Koruptor Harus Didukung

REPUBLIKA, 07/03/2012
Bung Hatta pernah berkata, “Korupsi di Indonesia sudah membudaya.”
Perkataan tersebut sampai saat ini belum bisa terpatahkan.
Ya, selama puluhan tahun merdeka, tindak korupsi semakin menjadi-
jadi. Data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) periode Ja -
nuari-Juni 2010 saja menunjukkan, 176 kasus korupsi, baik di pemerintahan
pusat maupun daerah.

Korupsi tersebut melahap anggaran sekitar Rp 2,1 triliun. Putusan
hakim dalam kasus korupsi Gayus Tambunan yang memis -
kinkan koruptor setidaknya memberi angin segar dalam upaya
memberantas korupsi di negeri ini. Selain vonis total 28 tahun
penjara, timbunan harta Gayus terkait kasus tersebut juga disita
negara.

Dengan putusan itu, seluruh komponen bangsa pasti merasa
senang. Kebijakan memiskinkan koruptor cukup tegas. Sebab,
me miskinkan koruptor mampu menciptakan efek jera. Hanya,
ke bi jakan ini perlu dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah
beserta penegak hukum harus bersinergi.

Abdul Arif
Getassrabi RT 07/04 Gebo…

Bincang Cerpen Soeket Teki

Image
SEMARANG-Senin (27/02/2012) Komunitas Sastra Soeket Teki menggelar Paramasastra #9 di depan aula Laboratorium Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Acara yang bertajuk “Imaji dan gaya bahasa cerpen” itu, ramai dipadati pengunjung. Puluhan tamu dari berbagai komunitas sastra dan kelompok teater semarang turut memeriahkan acara tersebut.

Sebelum perbincangan dimulai, beberapa peserta unjuk kebolehan dengan membacakan sebuah puisi. Alvian Guntur dari SKM Amanat tampil memukau membacakan puisi karya Gus Mus yang berjudul “Titik-titik Hujan”. Sementara itu anggota teater Wadas, teater Asa, teater Metafisis, teater Beta serta beberapa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tak ketinggalan meramaikan malam penuh lilin itu.
Hammidun Nafi’ S didapuk sebagai pembicara. Lelaki yang akrab disapa Hamid itu adalah mantan lurah Komunitas Soeket Teki 2010-2011. Cerpenis muda asal Jepara itu mengantar perbincangan dengan hangat. Peserta pun sangat antusias mengikutinya.

“Mas, bagaimana cara menulis cerpen ag…

Hidupkan Tradisi Membaca dan Menulis

OKEZONE, 05/03/2012
PADA prinsipnya niat Dirjen Dikti yang mewajibkan penulisan serta publikasi karya ilmiah, baik. Publikasi karya ilmiah bisa menjadi parameter mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Jika sebuah karya ilmiah layak muat di jurnal ilmiah, sudah pasti kualitasnya baik. Dengan begitu, bisa menjadi indikator keberhasilan mahasiswa. Namun, akan menjadi gegabah jika kebijakan ini mendadak diterapkan.
Perlu persiapan panjang untuk memulainya.

Menghidupkan tradisi baca-tulis mahasiswa adalah langkah krusial yang harus segera dilakukan. Pasalnya, pembuatan karya ilmiah tak lepas dari dua pekerjaan tersebut. Tradisi baca-tulis mahasiswa mampu menunjang kualitas karya ilmiah yang dihasilkan. Maka, perlu adanya kebijakan perguruan tinggi (PT) untuk memupuk tradisi baca-tulis mahasiswa.

Pada hakikatnya, kerja membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Untuk menulis, mahasiswa harus membaca. Penambahan mata kuliah jurnalistik dalam satuan kredit semester (SKS) bar…