Posts

Showing posts from September, 2014

memoar di tepi pantai

Image
bungaul. masih kuingat jelas. sore hari di tepi pantai. ada cerita yang takkan terlupa yang kukira akan mengabadi.

siapa yang mengawali cerita. aku hanya suket teki yang tak malu tumbuh di mana pun.

kita tak pernah membayangkan mengikat janji. lalu saling memaklumi untuk melepas janji.

siapa pula yang mengakhiri cerita ini. kita baru saja belajar tertawa riang. meski kadang harus mengulang. karena lebih banyak berduka.

hari ini, aku tak tahu apakah kau benar-benar tersenyum. tetapi, kau tentu tahu hari ini aku anak kecil menangis ditinggal ibu.

@arif_srabilor

Prof Imam Pernah Diuji Enam Profesor di Jerman

Image
Tahun ini Universitas Diponegoro (Undip) Semarang kembali mengukuhkan seorang Guru Besar. Adalah Prof Dr rer Nat Imam Buchori ST yang merupakan Guru Besar pertama di bidang Ahli Perencanaan Wilayah Kota yang dimiliki Undip.
Prof Imam Buchori lahir di Temanggung pada 23 November 1970. Dia dibesarkan di tengah keluarga guru. Kepada Tribun Jateng, dia mengungkapkan orangtuanya adalah seorang guru SD. Begitu juga kakek dari ibunya yang juga seorang guru semasa pendudukan Belanda dahulu. "Saya pikir, setelah saya lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) enak juga jadi guru," kata alumnus jurusan Planologi ITB tahun 1993 itu, Minggu (21/9).

Prof Purwanto Impikan ke Eropa sejak Kelas Tiga SD

Image
"Kalau kita kepingin mencapai sesuatu, mimpikanlah. Karena mimpi yang selalu di dalam pikiran akan menjadi daya dorong untuk mencapainya. Jadi bukan sekadar motivasi."
Demikian disampaikan oleh guru besar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Prof Purwanto (53). Dia mengatakan, sejak masih duduk di bangku kelas tiga SD dia kepingin belajar dan suatu saat mengenal dunia Eropa. Keinginan itu selalu diimpikannya, meski Purawanto tahu diri dia hanyalah orang desa.
Dia mengungkapkan, keinginan itu muncul usai mengikuti pelajaran sejarah di kelas. Saat itu kebetulan dia dan teman-temannya tengah mempelajari sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. "Kenapa Belanda bisa datang ke Indonesia. Kenapa kita tak bisa?," ujarnya.
Purwanto sejak kecil memang memiliki hobi mengenal negara-negara lain. Juga mengenal daerah yang meliputi keanekaragaman dan kulturnya. Dari hobi itu dia salurkan untuk membaca sejarah bangsa-bangsa di dunia. Hal itu dia lakukan hingga sekara…

Prof Lazarus Nyambi Jadi Sopir Angkot saat Kuliah

Image
Untuk menyeberangi lautan, tak perlu menunggu selesai membangun bahtera yang besar dan sempurna. Dengan perahu sekecil apapun harusnya bisa dan berani melawan ombak lautan.
Demikian apa yang menjadi prinsip Prof Lazarus Tri Setyawanta (52). Baginya, untuk melangkah dalam kehidupan tak perlu sempurna terlebih dahulu. Melainkan pelan-pelan dijalani sambil belajar dan menutupi yang masih kurang. "Kalau harus menunggu siap tidak akan jalan. Dijalani saja dahulu, nanti akan ada jalannya sendiri," katanya kepada Tribun Jateng, Senin (8/9) petang.
Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu memegang erat dan menerapkan prinsip itu dalam semua lini kehidupannya. Termasuk perjalanannya karirnya hingga menjadi guru besar di bidang hukum internasional.
Dia mengatakan, menjadi dosen memang menjadi impiannya sejak kecil. Dulu, ayahnya adalah seorang guru STM dan kemudian bekerja sebagai seorang penjahit. Lantaran Lazarus muda adalah putra dari seorang pen…

Mohamad Nasir, Satu-satunya Profesor Santri di Undip

Image
Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Prof Mohamad Nasir. Untuk itulah dalam menjalankan tugas apapun selalu dilaksanakan dengan sepenuh hati demi menjalankan prinsip itu.
Prof Mohamad Nasir (54) lahir di Ngawi, 27 Juni 1960. Dia dibesarkan di keluarga santri di sebuah kampung di Ngawi. Karena ayahnya juga santri, Nasir muda pun turut mengikuti jejak ayahnya belajar agama di pesantren.
Nasir tak pernah mengenyam pendidikan di SMP. Dia hanya nyantri di pesantren Mambaul Ilmi Asy-syar'y Sarang Rembang Jateng pada 1975-1978. "Usai lulus SD saya langsung belajar di pesantren. Sekitar empat sampai tahunan. Kemudian saya mengikuti ujian persamaan di ponpes dan alhamdulillah bisa masuk SMA," katanya kepada Tribun Jateng, Rabu (10/9).

SMA Nasima Semarang Ajarkan Siswa Sikap Nasionalisme dan Agama

Image
SMA Nasima Semarang memiliki komitmen kuat untuk memajukan pendidikan generasi muda Indonesia untuk menyongsong masa depan. Pendidikan dilakukan dengan pematangan nasionalisme dan wawasan keagamaan. Hal itu disampaikan oleh Manajer Pendidikan SMA Nasima Semarang, Dwi Sukaningtiyas. Dia mengatakan, sekolah yang dikelolanya itu memiliki visi membimbing insan Indonesia berilmu dan berakhlak mulia.Dia menyebutkan, visi misi sekolah menempatkan siswa sebagai subyek sesuai potensi dan karakteristik siswa. "Nasima mendidik dengan memberikan kepercayaan pada peserta didik untuk menjadi insan Indonesia yang menyadari fitrahnya sebagai mahkluk Allah dan berjatidiri Indonesia," katanya saat ditemui Tribun Jateng di kantornya, Jumat (11/7).Perempuan yang biasa disapa Ning itu mengungkapkan, SMA Nasima menerapkan sistem full day school. Kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung sehari, sejak pukul 06.50 sampai 15.30. Siswa masuk sekolah pada Senin-Jumat. "Hari Sabtu siswa tak mas…

SMKN 8 Semarang Kembangkan Batik Khas Semarangan

Image
SELAIN mempelajari teori kejuruan, Nurul Eka Yuliana (18) juga berkesempatan mengenal batik. Tak hanya mengenal, siswa jurusan Perawatan Sosial 3 SMKN 8 Semarang yang baru saja diwisuda ini juga bisa belajar membuatnya. "Sejak kelas X saya sudah diajari membuat sketsa batik," katanya saat dijumpai Tribun Jateng di sekolah, Rabu (11/6).Menurut dia, membuat batik merupakan satu di antara mata pelajaran yang wajib diikuti. Pada kelas XI pelajarannya membuat desain modifikasi dan kelas XII saya dan teman-teman mulai memproduksinya," ujarnya.Nurul mengatakan, pembelajaran membatik sangat menarik. Meski begitu dia juga sempat kesusahan lantaran tak terbiasa. "Senang bisa belajar membatik. Kini saya lulus dan memiliki keterampilan membatik," katanya.Guru kewirausahaan SMKN 8 Semarang, Subyanti mengatakan, pelajaran keterampilan membuat batik di sekolah mulai dirintis sejak 2008. Menurutnya, semua siswa dari berbagai jurusan memeroleh mata pelajaran tersebut. "An…

Belajar Sains melalui Model Pembelajaran SETS

Image
Pembelajaran akan menarik bagi siswa jika pembelajaran tersebut bermakna. Yaitu, pembelajaran yang memberikan manfaat bagi kehidupan siswa. Setidaknya hal itulah yang menjadi prinsip guru Kimia SMA Karangturi, Susena. Untuk itu dia menerapkan model pembelajaran Sciences Environment Technology and Society) SETS di kelasnya. "Saya sudah beberapa tahun terakhir menerapkan model pembelajaran ini. Tepatnya, sejak 2010 yang lalu," katanya kepada Tribun Jateng, Kamis (10/7).Susena mengatakan, model pembelajaran tersebut untuk pendekatan mapel IPA. Melalui pembelajaran tersebut, dia mencoba memberikan pemahaman empat ranah, yaitu sains, lingkungan, teknologi dan sosial. Menurutnya, dalam memberi pelajaran, pembelajaran sains memeroleh porsi lebih besar. Dia mencontohkan, pembelajaran materi ikatan air, yaitu H2O. Untuk menjelaskan kepada siswa bagaimana ikatan air itu, dia memanfaatkan tayangan. Dia juga menjelaskan aspek lingkungan pengelolaan air. Air minuman mineral misalnya. Sus…

Membaca Gagasan Prof Fathur Rokhman tentang Kampus Rumah Ilmu

Image
Kampus memiliki banyak peran dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Namun, peran kampus sebagai institusi keilmuan harus menjadi yang utama. Sebab, khitah perguruan tinggi yang sebenarnya adalah sebagai rumah ilmu.Demikian disampaikan Prof Dr Fathur Rokhman MHum dalam buku terbarunya berjudul "Membangun Rumah Ilmu". Menurut dia, perguruan tinggi dibangun dari keilmuan. Untuk itulah semua geliat, pemikiran, sikap dan langkah warga kampus harus didasarkan atas ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi, lanjut dia, juga harus bisa merespons permasalahan di tengah masyarakat dan terus membangun budaya keilmuan. Adapun, buku mungil tersebut merupakan sebuah kumpulan gagasan-gagasan yang pernah ditulis Prof Fathur selama menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di tengah kesibukan sebagai akademikus dan birokrat, Prof Fathur selalu menyempatkan waktunya untuk menuangkan ide-ide konstruktifnya dam sebuah tulisan.Dia menganggap, menulis adalah olahraga yang menyehatkan…

Surahmat Ajak Pembaca Waspadai Konsumerisme

Budaya konsumerisme yang dewasa ini kian merebak, mendorong Rahmat Petuguran untuk menyampaikan gagasannya. Dia mengajak semua kalangan untuk memaspadai bahaya konsumerisme melalui sebuah buku berjudul "Melawan Kuasa Perut" yang diterbitkannya baru-baru ini. Menurut dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut, budaya konsumerisme sangat berbahaya. Dia mengatakan, ada ketidakseimbangan relasi antara masyarakat dengan institusi kapital. Menurut dia, masyarakat cenderung mengikuti doktrin untuk selalu mengkonsumsi yang digencarkan oleh para pemilik modal. Melalui mekanisme sosial tertentu, kesadaran masyarakat dibentuk menjadi konsumen.Rahmat menyebutkann, buku "Melawan Kuasa Perut" menyampaikan gagasan reflektifnya tentang kondisi yang tidak seimbang itu. Dia mengatakan, semakin hari manusia di dunia ini semakin tak berdaya menuruti kemauan perutnya. "Manusia cenderung mengabaikan nilai-nilai yang hidup dalam ingatan batinnya, supaya bis…