Posts

Showing posts from September, 2013

Jangan Percaya

Nak, kelak kau pergi jauh Ke sebuah alamat Lewati jalan yang melupakan siang dan malam Hanya ada putih dan buram
Jangan percaya sesiapa Sebab mereka tak tahu apa-apa Bahkan pada dirimu Yang gamang itu

16-05-2011

Buntu

Kemarin aku lewat jalan itu Dan benar, jejak kakiku telah ada di sana Lalu pulang ke rumahmu Dan, aku benar-benar di rumahmu
Hari ini kutemu bunga di jalan Lalu kuisap madunya Tiba-tiba jalan buntu Aku tak bisa ke rumahmu

16-05-2011

Malammu

Sebab malam tak hanya gelap yang kian pekat Ada kisah di balik pejam yang melelahkan Meski mimpi Tapi benar-benar kau selami
Sebab malam tak pernah bicara Menghanyutkan percakapan kita Mematung tubuh Usai bermimpi lantas kita berpuisi

15-05-2011

Kau Tak Percaya?

: seseorang yang memanggilku kakak
Wahai adik, gerimis tadi sore mengingatkanku pada senarai kisah lelaki puisi. Ia merajut bait-bait sajaknya bersama desir hujan. Sebab tak ada yang lebih mengerti dirinya dari rintik hujan. Desirnya muasal gelisahnya. Derasnya irama tangisnya. Petirnya kutipan erangnya. Dan, pastilah mendung selalu menggelayut di raut wajahnya. “Hem, mosok?” Begitu jawabmu suatu waktu. Kau selalu menyoal kesungguhan. Benarkah?

15-05-2011

Gamang

Barangkali kau tak dengar Berulangkali kuketuk pintu Atau kau berpura-pura?
Sebab, terlalu pelan untuk sebuah ketukan Lantaslah aku mengeja kembali Sebelum kau benar-benar membuka : sebait sajak ingin kutilawahkan untukmu

15-05-2011

Surat

Aku melihatmu melipat-lipat surat Matamu membelalak ingin loncat Maaf kau kupegat Aku ingin minggat
27 April 2011

Pram Mengisahkan Indonesia dengan Apik

“Cerita, semuanya tentang manusia, kehidupannya bukan kematiannya,” kata Pram melalui dialog Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel Bumi Manusia.  Lelaki yang memiliki nama  lengkap Pramoedya Ananta Toer itu selalu mengusung kehidupan manusia dalam karya-karyanya.

Mahasiswa Tanpa Demonstrasi

Majalah Missi, edisi 35 April 2013

Seorang mahasiswa mulai jenuh dengan kehidupan di kampus. Ia benar-benar ingin segera meninggalkan tempat yang kata orang, surga ilmu. Di kampus, ia melihat sekumpulan mahasiswa yang tiada henti mendiskusikan masalah kehidupan. Soal negara, rakyat miskin, kebutuhan hidup yang tinggi, dan sebagainya.

Jonet, Pelindung Pedagang Kaki Lima Malioboro

Siang itu (16/09/2013) Jonet (40) sedang duduk di sebuah bangku panjang di pinggir jalan Malioboro. Sembari memeriksa setumpuk kartu berwarna biru, kepalanya tertunduk lesu. Lelaki yang bekerja sebagai mantri Koperasi Jaya Makmur Sentosa itu mengaku baru saja menemui beberapa nasabahnya. Sayangnya, ia tak mendapatkan sepeser pun saat meminta tagihan kepada nasabahnya.

Komik untuk Belajar

PANDANGAN publik, terutama kalangan pendidik selama ini meyakini bahwa komik identik dengan sesuatu yang negatif. Komik masih dianggap sebagai buku yang ”meracuni” peserta didik. Membaca komik akan meng­ganggu kegiatan belajar. Bah­kan stigma negatif semacam ini telah dilembagakan di sekolah pada era 1990-an. Peserta didik yang membawa buku komik ke sekolah dirazia.

Padahal, komik memiliki sisi lain yang  positif. Ia mampu me­mikat pembaca, sehingga tidak pernah bosan untuk menamatkan isinya. Jika potensi besar ini di­manfaatkan untuk kegiatan pembelajaran, akan memberikan dampak besar pada kemajuan pendidikan.

Kehadiran komik dalam kegiatan pembelajaran akan memberi nuansa baru. Setidaknya ia mampu merangsang atau menjadi stimulan saat kegiatan belajar. Hal ini sebagaimana pendapat L Crow dan A Crow, bahwa proses pembelajaran hendaknya dirangsang atau distimulasi dan dibimbing ke arah hasil-hasil yang diinginkan. Rangsangan tersebut bertujuan untuk membangkitkan minat dalam kegiatan …