Tunanetra berjalan dengan tongkat mengejar aksesibilitas

Tulisan ini tayang di Metrosemarang.com 13 Januari 2016

Suatu hari, seorang lelaki tunanetra menyusuri jalanan Kota Semarang. Dia terperanjat ketika menampak sebuah shelter bus di dekat Lotte Mart. Di sisi landaian jalur turun shelter itu terdapat lubang menganga cukup besar. Dia memang tak bisa melihat. Namun ketajaman pendengaran dan perabaan melalui tongkatnya memastikan ada bahaya. Lelaki tersebut dibantu sang istri lalu mengabadikan kondisi shelter itu melalui kamera ponselnya.

Di lain kesempatan, lagi-lagi lelaki tunanetra itu menemukan sesuatu yang menghambat aktivitasnya. Saat masuk ke dalam bilik anjungan tunan mandiri (ATM) di Jalan Sriwijaya Semarang, ada tonggak dari besi yang menghalangi langkahnya. Pintu dari kaca juga merepotkannya saat membuka. Dia pun meminta sang istri yang kebetulan mendampingi untuk mengambil gambarnya.

Masih banyak lagi pengalamn pahit yang diabadikannya. Foto-foto yang diambil lelaki tunanetra itu kemudian diunggah di media sosial facebook miliknya. Dia juga menuliskan pengalamannya di blog yang diberi nama aksesibilitas.wordpress.com. Lelaki tersebut bernama Suryandaru.

Pada Selasa (12/1) pagi, awak metrosemarang.com berkesempatan berkunjung ke rumahnya di Jalan Sadewa IV No 38. Lelaki yang akrab disapa Ndaru itu bercerita, dia jatuh sakit saat berumur 2 tahun. Saat umur 4 tahun baru diketahui Ndaru kecil mengalami glaukoma. Penglihatannya mulai berkurang. Meski demikian keadaan itu tak mematahkan semangatnya.

Ndaru mengatakan, hanya itu yang bisa dilakukannya untuk mengampanyekan aksesibilitas bagi para penyandang disabilitas, terutama bagi tunanetra seperti dirinya. Dia menemukan, pembangunan kota saat ini masih jauh dari harapan. Penataan kota masih sulit diakses oleh tunanetra. Dia bahkan menyebut pemerintah asal bangun tak memerhatikan tunanetra. “Foto-foto itu hanya yang bisa terambil. Yang belum masih banyak lagi,” katanya.

Saat ini Ndaru masih aktif di Dewan Pertimbangan Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Tengah. Meski demikian dia bukan ketua lagi di organisasi itu. Setelah bertahun-tahun memimpin, kini dia digantikan kawannya, Edy Satyo Joewono sejak 6 April 2015 lalu.

Selama aktif sebagai ketua Pertuni Jawa Tengah, Ndaru dikenal aktif merespons kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap difabel. Di antaranya, saat ada kabar bahwa Perum Angkasa Pura akan mengubah metode pengumuman dari bentuk suara menjadi running text. Saat itu, Suryandaru langsung menyurati Bandara Ahmad Yani Semarang dan Adi Sumarmo Surakarta yang masih di wilayah Jawa Tengah. Hanya Bandara Ahmad Yani yang menjawab suratnya dan tidak akan mengubah metode pengumuman saat itu. “Kalau pengumuman itu diubah jadi running text, orang awas pun kalau terlewat tak akan mengerti,” katanya.

Lelaki kelahiran Semarang, 5 Oktober 1972 itu juga aktif mengawal wacana pembangunan Bandara Ahmad Yani yang terintegrasi dengan terminal dan stasiun di Kota Semarang. Juga saat pembuatan Perda Nomor 11/2014 tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Mulanya, pihak Pertuni tak dilibatkan.Namun setelah melakukan advokasi melalui Ombudsman akhirnya Pertuni dilibatkan dalam drafting Perda tersebut.

“Seingat saya kalau masalah guiding path tak ada pelibatan dari kami. Saya sudah bicara di media berkali-kali. Juga sempat jadi pembicara di jurusan arsitektur Undip. Saya pikir itu sudah cukup tak perlu pakai surat. Tapi ternyata tak ada tanggapan,” katanya.

Menurut Ndaru, masih banyak pembangunan kota yang tak memerhatikan kebutuhan difabel. Padahal saat ini sudah ada Perda No 11/2014. Menurutnya, seharusnya bisa dilaksanakan dengan baik.

Suryandaru memandang tunanetra bukanlah suatu hal yang buruk. Menurutnya tunanetra justru tugas dari Tuhan untuk menyadarkan orang lain. Dia justru bisa berdakwah dengan kebutaannya. Mengajak orang awas untuk tetap bersyukur. Juga para pemimpin agar memperhatikan orang-orang sepertinya. Pola pikir itu yang membuat Ndaru terdorong untuk berbuat banyak hal seperti saat ini.

Ndaru berpikir, tunanetra seperti dirinya juga menginginkan hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang awas. Mulai dari layanan pendidikan hingga aksesibilitas fasilitas umum bagi tunanetra.  “Kami juga kepingin jalan-jalan sore dan pergi ke mal. Tapi kendalanya masih banyak,” katanya.

 

Tunanetra bisa kuliah


Suryandaru juga menaruh perhatian pada masalah pendidikan tunanetra. Dia  bersama kawan-kawan Pertuni mengembangkan digital talking book (DTB). Ribuan buku teks berhasil dikonversi dalam bentu audio. Ndaru mengatakan, pembuatan buku audio tersebut berkat kerjasama kerjasama dengan Yayasan Mitranetra di Jakarta. Proses pembuatan buku tersebut memakan waktu cukup lama. Buku teks dibacakan oleh orang awas dengan intonasi yang jelas lalu direkam ke dalam CD digital acces info system.

Kini koleksi buku audio tersebut tertata rapi di perpustakaan DPD Pertuni Jawa Tengah Jalan Badak Gang 3 No 62. Banyak anggota Pertuni yang memanfaatkannya untuk belajar. “CD itu berisi rekaman yang bisa diputar pakai CD player. Seperti baca buku tapi dibacakan,” katanya.

Tak berhenti di situ, Suryandaru juga menggelar pelatihan komputer bicara bagi tunanetra. Pelatihan dilakukan sejak 2001. Dialah orang pertama yang mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan tersebut merupakan program dunia. Di Indonesia, pelatihan digagas oleh Yayasan Mitranetra dan Griya Manunggal Yogyakarta. “Kami dari Pertuni Jateng ingin teman-teman bisa. Kami lalu studi banding ke Jakarta dan Yogyakarta bekerjasama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Kebetulan Udinus punya akademisi yang pintar komputer. Tapi belum tahu tentang tuanetra,” katanya.

Sejak pelatihan itu, mulai banyak anggota dari Pertuni yang menguasai komputer bicara. Suryandaru pun menjajaki kerjasama dengan kampus di Kota Semarang agar anggotanya bisa kuliah. ”Kan tunanetra butuh kuliah. Dengan alat bantu itu (komputer bicara) kami bisa kuliah. Kami nembung ke Rektor Udinus. Pak Kami mbok ya diberi kuliah gratis,” ujarnya.

Suryandaru pun menemukan hari baiknya saat Rektor Udinus, Edi Noersasongko membukakan pintu. Tunanetra mendapat kesempatan kuliah di Udinus. Saban tahun dijatah dua orang dengan rekomendasi Pertuni. Meski demikian tak banyak anggota Pertuni yang minat. Saat itu yang masuk di Jurusan Sastra Fakultas Ilmu Budaya tiga orang, yaitu Ndaru, Febri dan  Basuki. Namun hanya dua orang yang bisa menyelesaikan. Basuki memilih mundur karena merasa kesulitan.

Melalui kerjasama tersebut, kini sudah ada tiga anggota Pertuni yang lulus. Sementara yang masih aktif kuliah ada lima orang. “Alhamdulillah saya bisa lulus tahun 2011. Jadi saya sekarang punya dua gelar sarjana. Sarjana hukum Undip lulus tahun 1996 dan sastra Udinus,” katanya.

Saat ini Pertuni sudah menggandeng sejumlah universitas untuk kerjasama dalam bidang pendidikan. Selain Udinus, Pertuni juga kerjasama dengan Universitas Stikubank Semarang, Politeknik Negeri Semarang (Polines) dan Fakultas Teknik Undip. Hanya saja, kata Ndaru, masih sedikit minat anggota untuk kuliah.

Ndaru mengungkapkan sejumlah kendala selama kuliah. Dia mengatakan, kuliah  berlangsung inklusif bersama mahasiswa biasa. Beberapa dosen belum berpengalaman menghadapi mahasiswa tunanetra. Mereka, kata Ndaru, kebingungan. Kedatangan Ndaru di kelas rupanya menghebohkan. Suryandaru pun mulai melakukan sosialisasi kepada dosen di Fakultas Ilmu Budaya Udinus. Dia menjelaskan kebutuhan tunanetra kepada para dosen.

Ndaru menjelaskan, selama belajar tunanetra menggunakan bahan belajar dalam bentuk soft file. Mereka sudah terlatih karena sudah menguasai komputer bicara. Selain itu, saat menerangkan di kelas dosen harus menyebutkan dengan jelas.

“Dosen kalau menerangkan harus jelas diterangkan apa yang dimaksud. Jangan bilang ini itu dengan menunjuk LCD. Kami kan tidak bisa melihat. Heboh saat itu. Sekarang lumayan sudah banyak dosen yang paham,” ujarnya.

Perjuangan Suryandaru tak berhenti di situ. Saat ini dia juga tengah menyiapkan pelatihan beladiri Aikido bagi tunanetra. Secara mandiri dia telah melakukan ujicoba mengikuti latihan Aikido. Hasilnya, di luar perkiraan. Saat ini dia sudang mengenakan sabuk cokelat. Ujian Kyu-3 telah dilaluinya pada 2015 lalu.

“Pelatihan beladiri untuk tunanetra sangat penting. Untuk menjaga diri. Mohon maaf, saat ini tak sedikit tunanetra yang mengalami pelecehan, terutama yang bekerja sebagi tukang pijat. Aikido kami pilih karena beladiri jarak dekat tak mengutamakan kekerasan,” katanya. (Abdul Arif)

Popular posts from this blog

Kisah Ita Melawan Ganasnya Kanker Serviks

78 Tahun Panca Jaya Jual Obat Tradisional China

Kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang