Kisah Ita Melawan Ganasnya Kanker Serviks

Tulisan ini pernah dimuat Tribun Jateng
Purwita Wijayanti (35) bersama putrinya
Masa-masa sulit bagi Purwita Wijayanti (35) kini telah berlalu. Warga yang tinggal di Gang Riswan No 25 RT 5/1 Kelurahan Kober, Purwokerto Barat itu berbulan-bulan berjuang melawan kanker serviks yang menderitanya.

Menurut dia, menderita penyakit yang mematikan itu sungguh tak mengenakkan. Perasaan paling tak nyaman yang dialaminya selama pengobatan yaitu reaksi dari terapi radiasi   sinar eksternal. "Saya merasakan gatal dan panas. Dari pusar hingga ke bagian bawah. Gosong memang, tapi kalau terbakar tidak. Tak boleh mandi. Mual-mual juga rasanya," katanya saat ditemui Tribun Jateng di rumahnya, Jumat (8/5).


Perempuan yang biasa disapa Ita tersebut ditemani putrinya, Jasmine (10). Dia mengatakan, dalam kondisi seperti itu, gairah makan pun hilang. Kebanyakan penderita kanker yang ditemuinya susah makan. Tetapi, demi kesembuhan dia berjuang semampunya untuk tetap mengonsumsi asupan bergizi.

Dia mengatakan pengobatan dijalaninya selama empat bulanan, yaitu sejak September hingga Desember. Setiap Senin-Jumat dia harus menjalani terapi sinar luar dan kemoterapi. Selama itu, terapi sinar luar dilakukan sebanyak 25 kali, kemoterapi lima kali dan terapi sinar radiasi dalam tiga kali.

"Karena perkembangannya bagus, jadi kemoterapi dikurangi. Kata dokter, imunitas saya bagus," ujar perempuan kelahiran Jayapura, 12 Januari 1980 itu.

Ita mengungkapkan, dirinya mendapat vonis menderita sakit kanker serviks selepas lebaran tahun lalu. Tepatnya pada 6 Agustus 2014. Saat itu dia memeriksakan diri ke Rumah Sakit (RS) Elisabeth Purwokerto.
Sebelumnya, Ita sering mengalami pendarahan cukup lama di luar siklus menstruasi. Ada sekitar tiga mingguan. Seingat dia, kejadian itu bersamaan dengan pindahan rumah dari Baturaden ke Kelurahan Kober. 

"Saya pikir itu biasa karena mungkin kecapaian. Sempat bersih juga pendarahannya. Lalu saya berhubungan badan dengan suami ternyata masih pendarahan," katanya.

Menurut Ita, usai berhubungan badan dengan suami, punggung bagian bawah terasa pegal dan panas. Dia juga keputihan  namun tidak bau. Sebenarnya, kata dia, tanda-tanda itu sudah dirasakannya dalam dua tahun belakangan. Namun Ita cuek lantaran sibuk mengurus bisnis keluarga. Bisnis yang dijalaninya adalah jasa katering.

"Saat divonis sudah masuk stadium IIB. Kanker sudah menyebar ke kanan dan kiri pada pangkal pinggul. Saya diperiksa melalui pemeriksaan biopsi. Oleh dokter kandungan, saat dibuka ternyata kondisi rahim sudah rapuh sehingga sering keluar darah," katanya.

Ita berterus terang merasa bingung saat itu. Penyakit yang dideritanya bukanlah penyakit biasa. Sementara saat itu keadaan ekonomi keluarga tengah pas-pasan. Sebab saat dia bersama keluarga pindah ke Purwokerto, suami sempat diajak kerjasama bisnis oleh seseorang. Namun orang yang mengajak tersebut tak bertanggungjawab. Sementara suaminya belum ada pekerjaan saat itu.

"Kebetulan rumah ibu saya di Semarang terjual. Pikir kami saat itu, habis-habis dana tak apa-apa. Tetapi lalu tahu ada BPJS Kesehatan. Bulan Agustus itu juga langsung gabung BPJS. Waktu itu belum ada peraturan kepesertaan aktif setelah tujuh hari. Jadi langsung bisa dipakai. Alhamdulillah saya bersyukur, servisnya bagus sekali," katanya.

Dia mengungkapkan, keluarga hanya sempat merogoh kocek sebesar Rp 500 ribu sebelum kemudian pengobatan kankernya dibiayai oleh BPJS. Meski begitu, dia masih memerlukan cukup biaya untuk transportasi dan sebagainya. Akhirnya, sang suami Glenn Allan Mecgrew II (48) yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Amerika itu turun tangan jualan Burger di Pasar Kober demi operasional pengobatan istrinya. Misalnya untuk transportasi ke RS Darmais di Jakarta untuk terapi radiasi dalam.

Glenn yang berjualan Burger di Pasar Kober sempat menjadi sorotan media saat itu. Warga sekitar pun menaruh perhatian. Dagangannya laku keras. Namun, belakangan Glenn memilih pindah berjualan di rumahnya lantaran merasa tak nyaman dengan warga sekitar. Sebab para pembeli burgernya memarkir kendaraan sembarangan sehingga dinilai meresahkan.

"Suami saya luar biasa. Di depan saya dia berusaha mensupport. Tapi biasanya di kamar mandi, saya tahu dia menangis. Dia juga kesehatannya menurun karena tak diurus. Untung ibu saya datang ikut membantu," katanya.

Glenn pun selalu memberikan motivasi selama pengobatan yang dijalani Ita. Kepada Ita, Glenn meminta agar tak memikirkan apapun. Harus semangat untuk sembuh. Kedua anaknya, Jasmine (10) dan Iregi (6) juga menjadi penyemangat Ita untuk sembuh.

Ita merasa bersyukur lantaran hasil pemeriksaan pada Februari lalu menunjukkan kanker yang menyerang rahimnya sudah bersih. "Insya Allah sudah sembuh. Bulan Juni nanti periksa lagi," kata dia.
Ita berharap apa yang menimpanya tak dialami oleh perempuan lain. Dia pun berpesan kepada kaum hawa agar tak mementingkan uang ketimbang kesehatan. Menurutnya, meluangkan waktu untuk keluarga justru lebih baik. "Saya jadi agak jauh dengan anak-anak karena ngurusi katering. Sekarang nggak boleh temukan lagi," katanya.

Dia juga berpesan agar kaum hawa rajin memeriksakan diri melalui papsmear atau IVA. "Jangan malu. Dokter sebenarnya sudah bilang kepada saya kalau ada semacam bakteri di rahim saya sebelum jadi parah. Tapi saya abaikan," katanya.

Setahu dia, penyebab kanker serviks tak melulu dari hubungan suami istri. Namun bisa saja dari toilet umum atau memakai pembalut terlalu lama yang memicu timbul bakteri.
"Kepada penderita harus bisa melawan. Semangat harus dilawan kankernya. Kalau tak ada keluarga, harus buat kesembuhan diri sendiri," ujarnya. (Abdul Arif)

Popular posts from this blog

78 Tahun Panca Jaya Jual Obat Tradisional China

Kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang