78 Tahun Panca Jaya Jual Obat Tradisional China

Robert Budi Wibawa (69)

Robert Kelola Toko Sejak Umur 16 Tahun

Aroma rempah dan obat-obatan tradisional cukup menyengat di sebuah toko yang terletak di Jalan Gang Pinggir No 1 Semarang, Senin (16/2/2015). Beberapa petugas toko yang mengenakan seragam kaus hijau terlihat sibuk melayani pembeli. Sementara petugas lainnya terlihat mengemas obat.

Di toko tersebut, petugas yang seorang gadis itu tengah menumbuk obat Pien Tze Huang. Sebuah obat pengering luka yang diimpor dari Tiongkok. Obat yang berbentuk bulat itu ditumbuknya menjadi serbuk yang lembut. Lalu, dia mengemasnya dalam kapsul. Setiap biji obat itu bisa dikemas dalam enam kapsul.
Toko tersebut berpapan nama "Panca Jaya". Hampir semua obat yang dijual di toko itu dilabeli dengan istilah China. Hanya beberapa obat yang merupakan produk lokal, seperti jamu Sido Muncul dan Borobudur yang terlihat di toko itu.


Pemilik toko, Robert Budi Wibawa (69) mengungkapkan, toko yang kini dikelolanya itu sudah berumur puluhan tahun. Dia menyebutkan, orangtuanya merintis usaha toko obat tersebut pada tahun1937. Saat itu nama tokonya adalah "Ngo Hok Tong" yang kini masih dipajang di bawah nama Panca Jaya.
"Artinya sama. Nama ini dari ayah saya, You Phin Tjay. Saya melanjutkan usahanya mulai umur 16 tahun. Saat itu, sambil sekolah saya sudah ikut mengurusi usaha ini," kata lelaki kelahiran Semarang, 25 Desember 1946 itu.

Menurut dia, obat-obatan yang dijual memang kebanyakan impor dari Tiongkok. Dia mengatakan, bahan-bahan obat-obatan semua diambil dari sana. Namun, perkembangan terakhir ini sudah mulai muncul obat-obatam tradisional China yang dikemas sevara modern.
"Kalau sekarang tak diramu lagi tetapi dalam bentuk kapsul. Masak sampai sekarang masih meramu terus," ujarnya.

Toko Panca Jaya
Dia mengatakan, memang ada beberapa obat yang diramu. Yaitu obat yang dari resep seorang shinse. Dia mencontohkan, ramuan daun kumis kucing dan keji beling untuk mengobati penyakit kencing batu. "Kalau ada shinse yang membuka resep ya kami buatkan ramuan. Di sini obat untuk semua macam penyakit ada," katanya.

Robert mengaku, sangat berhati-hati dalam menjual obat-obatan. Dia memastikan semua obat yang dijualnya telah lolos dari BPPOM. Untuk jamu lokal dia bahkan hanya membatasi pada produk dari pabrik yang sudah terpercaya. "Kalau tak begitu bisa repot. Kami sudah pukuhan tahun," kata dia.

Menurut Robert, toko obat tradisional seperti miliknya sudah memiliki pangsa pasar sendiri. Dia mengatakan, di setiap kota juga ada toko serupa. Dia mengungkapkan, dari zaman penjajahan Belanda hingga sekarang masih diminati. "Selalu ada pasiennya. Kalau apotik cuma melayani resep sokter. Kami melayani resep shinse," katanya.

Menurutnya, saat ini masyarakat berusaha menjalani pengobatan pentakit melalui medis. Namun jika belum sembuh orang seringkali lari ke pengobatan alternatif. Dia menyebut, pengobatan alternatif cukup aman lantaran bahan-bahan yang dipakai untuk obat semuanya tradisional sehingga minim efek samping.

Terlebih, saat ini pengobatan alternatif melalui shinse telah diakui melalui ujian negara. Sehingga praktiknya lebih terjamin. Bahkan akupuntur yang menjadi bagian shinse kini mulai merambah dunia medis di rumah sakit.

Hanya saja, lanjut Robert, dalam 30 tahun terakhir keberadaan shinse memang sangat minim. Tak ada generasi muda. Hanya generasi tua yang masih bertahan. Namun, kini mulai muncul generasi muda yang mempelajari shinse. "Sekarang ada sekolahnya di Ikatan Naturopati Indonesia," kata Robert yang juga penasehat asosiasi tersebut.

Robert tak mengungkapkan berapa omzet penjualan obat tradisional di tokonya. Yang jelas, menurutnya tokonya tak pernah sepi dari pembeli. "Tak ada yang luar biasa. Pembeli pastk ada dari dulu sampai sekarang," katanya. (Abdul Arif)

Popular posts from this blog

Kisah Ita Melawan Ganasnya Kanker Serviks

Kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang