Posts

Showing posts from January, 2013

Mengembalikan Martabat Warnet

Warung internet (warnet) mengalami disfungsi peran. Fasilitas untuk mengakses informasi itu beralih fungsi sebagai tempat mesum. Warnet terkesan tempat tak bermartabat. Ironisnya, para pelaku mayoritas adalah remaja yang masih bersekolah. Mereka memanfaatkan bilik-bilik warnet untuk melakukan tindakan asusila. Pada November 2011 lalu sepasang remaja, siswa-siswi sebuah SMK di Pekalongan tertangkap basah sedang berbuat mesum di sebuah warnet oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mereka ditangkap dalam keadaan tanpa busana di bilik nomor lima (SM 30/11/2011). Kasus serupa terjadi pada awal Desember di Kota Semarang. Seorang siswa SMK mencabuli siswi SMP di sebuah bilik warnet. Bahkan siswa tersebut malah merekam adegan asusila itu dengan  video ponselnya. Dan bejatnya, video itu digunakan alat untuk memeras siswi SMP tersebut dengan ancaman akan disebarkan di internet (SM 27/12/2011).

Perempuan dan Bengis Angkot

Angkutan kota (angkot) adalah transportasi murah yang bisa dijangkau masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.  Banyak masyarakat yang memakai jasa itu. Namun setelah terjadi tragedi pemerkosaan, kini masyarakat tak nyaman lagi memakai jasa angkot. Tragedi itu menorehkan luka perih di hati perempuan. Ya, sejak Agustus 2011 lalu, ada empat kasus pemerkosaan di atas angkutan umum di kawasan Jabodetabek. Di Makassar, Sulawesi Selatan, juga dikabarkan seorang siswi SMP direnggut kegadisannya di atas angkutan umum (Kompas , 3/2/2012). Kasus pemerkosaan tak boleh dianggap remeh. Nursyahbani Kantjasungkana memandang masalah pemerkosaan sebagai problem sosial yang menyangkut masalah hak asasi manusia (HAM). Menurutnya masalah pemerkosaan haruslah di tempatkan pada konteks sosial yang lebih luas, di mana perempuan dan perilakunya secara sosial didefinisikan dan dikontrol (Yuyun Affandi, 2010).

Efektivitas Pendidikan Antikorupsi

Di sekolah kita, dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi (PT) bakal ketambahan muatan pendidikan antikorupsi. Kebijakan tersebut rencana diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada tahun ajaran 2012/2013. Tepatnya bulan Juni mendatang.
Kerjasama antara Kemdikbud dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, memiliki tujuan mulia: membentuk generasi baru antikorupsi. Generasi tersebut diimpikan sebagai anak-anak muda yang jauh dari sikap koruptif.
Langkah ini mencoba menjawab kondisi bangsa  yang tengah karut-marut. Kasus tindakan korupsi seolah tiada titik hentinya. Tiap hari media massa, baik elektronika maupun cetak tak bosan membincang persoalan korupsi.

Butuh Keteladanan

Tulisan saudara Andri Andrianto yang berjudul “Menimbang Pendidikan Antikorupsi” (SM, 17/3) menarik untuk diperbincangkan. Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa pendidikan antikorupsi seolah menemukan momentumnya. Ya, memang kondisi bangsa kita saat ini tengah disibukkan dengan kasus korupsi, tetapi persoalan ini tak cukup diberantas dengan pendidikan pendidikan antikorupsi. Penerapan muatan pendidikan antikorupsi yang menurut rencana akan dimulai tahun ajaran 2012-2013 justru akan sia-sia belaka. Pasalnya, kita tahu sendiri orientasi pendidikan kita masih jauh dari harapan. Keberhasilan peserta didik hanya diukur dengan angka. Taruhlah Ujian Nasional (UN) yang begitu meresahkan peserta didik. UN hanya mencakup satu aspek saja: kognitif. Padahal keberhasilan suatu pendidikan harus mencapai tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Teater Kampus yang Galau

Teater kampus pelan-pelan ditinggalkan “masyarakatnya.” Ia laiknya suatu objek yang awalnya dikagumi lantas ditinggal pergi. Ada apa gerangan? Kenapa kini teater kampus tak lagi digemari masyarakat kampus (baca: mahasiswa)? Ya, melihat perkembangan teater kampus terkini, membuat gelisah sekaligus tertawa dalam hati.  Yang membuat gelisah adalah apa yang saya sampaikan di atas. Beberapa kali meliput kegiatan teater kampus, yang meliputi pementasan teater, monolog, musikalisasi puisi dan kegiatan seni lainnya, mayoritas pengunjungnya adalah awak-awak teater sendiri. Meskipun ada  pengunjung dari luar kampus, itupun orang-orang yang bergelut di dunia seni atau dari kelompok teater kampus lain. Tak banyak dari mahasiswa biasa yang mau menjadi saksi pementasan teater kampus.

Belajar Hikmah bersama Emha

Judul Buku       : Spiritual Journey; Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib Penulis             : Prayogi R. Saputra Penerbit          : Buku Kompas Cetakan           : Maret 2012-04-29 Tebal               : xvii+214 halaman ISBN                 : 978-979-709-629-8 
Maiyah identik dengan bershalawat. Shalawat memang bukan ibadah mahdloh kepada Allah dan bukan  kewajiban manusia. Ia hanya sebagai ungkapan cinta yang dalam kepada Rasulullah. Shalawat ini memiliki peran signifikan dalam kehidupan. Ia merupakan kunci utama segitiga cinta antara manusia, Rasulullah, dan Allah. Bagaimana bisa? Ya, logikanya jika Allah mencintai manusia yang mencintai kekasih-Nya, sedangkan  Rasulullah Muhammad adalah kekasih Allah. Maka dapat disimpulkan Allah mencintai manusia yang mencintai kekasih-Nya; Muhammad.

Ngabuburit dengan Jurnalistik

Akhir-akhir ini budaya menulis terus digalakkan. Tak hanya di sekolah, di pesantren pun tradisi menulis mulai digerakkan. Gerakan santri menulis melalui workshop maupun sarasehan jurnalistik secara intensif dilakukan di berbagai madrasah maupun pesantren. Melihat hal itu, MA NU 03 Sunan Katong, Kaliwungu, tak mau ketinggalan. Senin (6/8) MA NU 03 Sunan Katong menggelar sarasehan jurnalistik dan buka bersama. Peserta meliputi dewan guru, tim PPL IAIN Walisongo, pengurus OSIS dan siswa perwakilan kelas.  Acara yang bertempat di aula madrasah itu merupakan kerjasama Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)  MA NU 03 Sunan Katong dengan tim PPL  IAIN Walisongo Semarang. Abdul Arif, redaktur  senior SKM Amanat, didapuk sebagai pembicara. Acara dibuka oleh Waka Kurikulum MA NU 03 Sunan Katong, Heri supriyanto ST. Ia menyambut baik acara yang digelar tiap bulan Ramadan tersebut. Arif mengatakan, budaya menulis di kalangan madrasah atau pesantren perlu dihidupkan. Ia menunjukkan, budaya menulis di …

Membuat Sperma dari Kulit Manusia

Ada kabar menggembirakan dari Pittburgh, Amerika Serikat. Yaitu temuan Tim ilmuwan dari University of Pittsburgh School of Medicine, Amerika Serikat, terkait pembuatan sperma dari kulit manusia. Temuan mutakhir ini merupakan cara baru mengobati masalah kesuburan pria(Tempo.co, 31/08/2012). Sebuah penelitian mengatakan satu dari enam pasangan di dalam keluarga memiliki masalah infertilitas pada pasangan prianya sebanyak 40 persen. Dengan temuan baru ini, masalah kesuburan pria dapat dipulihkan dengan sperma yang diproduksi dari kulit manusia. Menurut ketua tim penelitian Charles Easley, beberapa pengobatan kanker menyebabkan efek samping infertilitas. Memang, ada prosedur untuk menyimpan jaringan testis sebelum melakukan pengobatan kanker. Namun, jamak orang tak memiliki kesempatan untuk menjaga jaringan itu tetap steril. Dalam penelitian tersebut, peneliti menemukan sel punca dalam kulit yang mampu dijadikan sel-sel kunci. Salah satunya sel-sel sperma tahap awal.

Akademi Komunitas dan Pembangunan Ekonomi

Bangsa ini seolah mendapat angin segar ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggagas Akademi Komunitas (AK). Kebijakan yang bakal direalisasikan awal September ini, dalam rangka meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia (TKI) (SM, 28/8/2012). Ya, AK merupakan pendidikan vokasi setingkat diploma satu dan diploma dua. Sebagaimana diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh, pendirian akademi komunitas memiliki tiga sasaran. Pertama, untuk meningkatkan kualitas ketenagakerjaan. Sehingga daerah kantong-kantong penyedia TKI menjadi kriteria wilayah pendirian AK. Kedua, dengan adanya AK daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam  bisa dikelola dengan baik. Pasalnya, jika di daerah tersebut terdapat pabrik atau perusahaan, masyarakat setempat bisa ikut terlibat. Ketiga,  pendirian AK merupakan kesatuan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud) untuk mengevaluasi kurikulum pendidikan saat ini perlu diapresiasi. Ya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 yang berlaku sekarang belum bisa menjawab persoalan yang muncul di masyarakat. Kasus tawuran antar pelajar misalnya, masih marak di mana-mana. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, apakah pendidikan karakter yang digemborkan selama ini kurang? Dalam evaluasi tersebut, meliputi standar isi, proses, evaluasi, dan kompetensi. Setidaknya, dengan melakukan evaluasi akan diketahui manakah mata pelajaran (mapel) yang relevan dengan kebutuhan sekarang. Pasalnya, mapel di sekolah memang cukup banyak. Di SMA misalnya, ada sekitar 17 mapel  yang harus dipelajari (Kompas, 3/9).

Meneladani Dakwah Sunan Muria & Kudus

Judul Buku: Sunan Muria Kudus: Prinsip Hidup dalam Membentuk Karater Bangsa Penulis: Zamhuri, Rosidi, Farih Lidinnillah Penerbit: BP Universitas Muria Kudus Cetakan: Pertama, September 2012 Tebal : vii + 100 halaman Misi utama Agama Islam sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam aplikasinya rahmat itu tak hanya untuk manusia saja, tapi untuk semua mahluk yang ada di bumi. Namun, fenomena yang nampak dewasa ini justru bertolak belakang dari misi mulia itu. Di mata publik, Islam selalu ditautkan dengan aksi kekerasan dan terorisme. Anggapan itu memang bukan tanpa alasan, mengingat banyak kelompok umat Islam yang menghalalkan kekerasan dalam berdakwah. Agama Islam ditampilkan dalam wajah garang, menyeramkan, menghujat, serta menyerang kelompok yang tidak sepaham dengan para juru dakwahnya. Alhasil, justru cara seperti itu ditakuti dan dijauhi publik. Buku berjudul Sunan Muria Kudus: Prinsip Hidup dalam Membentuk Karakter Bangsa ini hadir…

Mewujudkan Kampus Antikekerasan

Dunia kampus gempar. Bentrok antarmahasiswa di Makassar beberapa waktu cukup memilukan. Dua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar tewas dalam insiden berdarah itu (SM, 16/10). Pertemuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Universitas Jayabaya pada Senin (22/10) juga diwarnai kericuhan. Bentrok terjadi antarkelompok mahasiswa asal Makassar dengan mahasiswa Universitas Trisakti yang berbuntut enam mahasiswa luka-luka (Kompas, 24/10). Kasus tersebut hendaknya menjadi bahan refleksi untuk semua kalangan, baik perguruan tinggi (PT) atau mahasiswa itu sendiri.  Kekerasan di kalangan mahasiswa tak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada upaya untuk menanggulanginya. Dunia kampus dibangun dengan iklim intelektual. Semangat Tridharma PT: pendidikan, penelitan, dan pengabdian kepada masyarakat, hendaknya menjadi asas  dalam mengembangkan potensi kampus.  Dari situ, sangat kontradiktif jika mahasiswa yang dikenal sebagai kaum intelektual terlibat kasus tawuran. Betapa ironis, ketika m…

Berprestasi tanpa Narkoba dan Free Sex

Generasi muda bangsa ini semakin menuju titik nadir. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang semakin marak dan merusak tatanan moral. Narkotika dengan berbagai jenisnya telah meracuni kehidupan kalangan pelajar dan mahasiswa. Sunguh ironis, generasi terpelajar yang digadang sebagai pemimpin masa depan itu menjadi pecandu barang haram itu. Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan 50-60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa. Persentase itu dari jumlah pengguna narkoba yang berhasil dihimpun BNN, yaitu 3,8 samapi 4,2 juta orang. Hal itu diungkapkan olehpengelola BNN Suswanto dalam Seminar Nasional yang bertajuk “Cerah Kampusku, Gemilang Prestasiku, tanpa Narkoba dan Free Sex.” Acara yang digelar pada Rabu (7/11/2012) itu berlangsung di gedung auditorium 2 kampus III. Ratusan peserta dari mahasiswa IAIN Walisongo dan sekitar turut hadir memadati ruangan. Acara tersebut merupakan bentuk keprihatinan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Penyuluhan Is…

Pergeseran Orientasi PTAI

Tulisan Rosidi yang berjudul “Keteladanan yang Terlupakan” (SM, 10/11) menarik untuk diperbincangkan.Rosidi menengarai adanya pengaburan terhadap sosok Walisongo yang berjasa banyak bagi bangsa ini. Ia menuding, keberadaan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) saat ini tak mampu menjadi institusi penerus perjuangan Walisongo.Fakta yang ada, PTAI sebatas lembaga pendidikan tinggi yang hidup dengan nama agung Walisongo. Barangkali benar, niat awal pendirian PTAI dengan berbagai nama dari angggota Walisongo itu sebagai spirit intelektualisme Islam. Tetapi perlu dipertanyakan kembali: apakah benar pemberian nama PTAI dengan namaagung salah satu Walisongodengan niat meneruskan perjuangan mereka? Atau hanyasebatas strategi untuk menggait masyarakat, mengingat nama-nama Walisongo telah membumi. Menurut Musahadi dkk (2003), keberadaan PTAI merupakan salah satu mata rantai perjuangan para tokoh agama Islam di Indonesia dalam bidang pengembangan agama Islam secara kelembagaan. Keberadaannya tak lep…