Posts

Showing posts from December, 2010

Menulis untuk Keabadian

Image
Yups...kali ini belajar mewarnai. Walaupun masih kurang hidup warnanya. No problem..yang penting sudah bisa mewarnai. Tinggal belajar pilih-pilih warna saja. Oke..lanjut!

Melukismu di Retinaku

Image
Hehehe...ini lukisan perdana saya. Belum bisa menciptakan seni yang indah. Tapi tak apa lah. Hal terpenting adalah tetap semangat berkarya. Ya, semoga goresan demi goresan yang kujalani mampu mencipta seni.

Suasana di Kota Hati

Oleh Arif Srabi Lor

dulu, sebelum malam naas itu
kota di hatiku sangatlah riuh
sajak-sajak berbaris indah
tertulis di dedaunan hijau

namun tiba-tiba saja hujan membasahi pipi
dan jatuh menghapus catatan silam
kota ini makin sepi
hanya mencatat wajah muram

daun-daun kering bersama kemarau
bertebaran membawa sajak-sajak
tersapu angin berserakan
semua hilang tak ada yang tertinggalkan

kata-kata mulai surut
saat rasa yang ku anut
begitu saja menghilang
membuat hatiku gamang

dulu, sebelum malam sial itu
kota hatiku sangatlah ramai
gedung-gedung tertata rapi
seperti matriks tak berordo menjulang tinggi

rasa yang bergejolak
perlahan menjadi entri-entri yang malang
kehilangan cahaya kehidupan
tersungkur dalam catatan kesedihan

:vektor

taukah kau, kekasih?
saat kutatap senyummu senja itu
perlahan tumbuh  vektor di hatiku
yang semakin hari kian memanjang

dan yang ku tahu
vektor ini tak punya arah tentu
ia selalu berubah mengikuti gerakmu
bahwa kerinduan merupa sekalar
yang perlahan membuat vekt…

Pesan Singkat

Oleh Arif Srabi Lor

ku sebut saja wasiat
sebuah pesan singkat
yang kuterima darimu
sebelum kepergianmu

aku terpukul saat ku eja
tubuhku surut seketika

namu jauh sebelum itu
telah ku siapkan semua
ku tatar hati untuk bersabar
ku wejang mata untuk tak menangis

tapi pesan singkat itu
meluluhkan hati dan mataku
hati gusar mataku nanar

ingin ku balas
tapi kau lebih dulu mengatakan jahat
aku tersungkur di depan pesan singkatmu

10 Desember 2010

Tiga Sudut Istimewa

Oleh Arif Srabi Lor

:usai mendaras Al-Fatihah

1
pikiran masih mengambang
hati turut bimbang
menatap jalan kian buram
dan tubuh hampir karam

ku eja huruf-huruf dan tanda
mencoba menggali makna
namun tak juga ku temu
pesan yang tersurat dari firmanMu

barangkali otakku masih tumpul

2
ku ulang untuk yang kedua
masih huruf dan tanda yang sama
kali ini dengan nada
dan sesekali irama

lalu  ku jumpai sebuah penyesalan
bahwa jalan lurus bagi iman terurus
bukan orang-orang yang malas

ku coba telusuri jalanku
dan masih ku dapat sudut siku-siku
aku belum saleh dalam laku

3
masih berharap yang sama
sedikit berlari mengejar makna

betapa dahsyat pesan firmanMu
menusuk hatiku yang hampir kaku
meneguhkan prinsip
dan berpikir lancip

11 Desember 2010

Renungan Malam

Oleh Arif Srabi Lor
Di keheningan malam Ketika anak manusia terlelap Angin malam menyapaku Dinginnya menyentuh sumsum tulangku
Aku diajak jauh dalam pelamunan Berangan-angan tentang masa depan Ia menunjukkan sebuah mimpi Mimpi itu bagaikan bintang
Aku tak yakin bisa meraioh bintang itu Aku masih ragu Bagaimana aku harus berbuat Ia berada di jarak yang sangat jauh
Kembali aku dari pelamunan Aku tersadar, terbangun Aku tertipu oleh heningnya malam Ia memberikan angan-angan palsu
Teringat aku akan nasehat ayahku Aku harus yakin akan niatku Berusaha adalah kewajiban Hanya Dia yang mampu mewujudkan
Bulletin Alternatif, Januari 2010

Sebuah Kisah Akhir

Oleh Arif Srabi Lor

malam ini aku seperti debu basah tak berdaya di hardik hujan
tapi ketenangan semakin mendekat kala kau menjauh
ya, rintik hujan menjelang senja tadi cukup kuat memasungku

aku yang diam tak bergerak
mencoba menengok kisah-kisah silam
yang terkubur oleh waktu dan ingatan yang kian mengerak dan membatu
sesekali ku usap kening membangunkan kenangan yang tertidur panjang

dan ku ingat saat kau bercerita tentang penantian
yang kini lebur sepanjang hujan mengguyur
aku tak menandai itu sebuah janji
tapi kau tunjukkan kemenangan waktu memaknai
namun jauh sebelum kau mengucap
aku tahu kau di antara bimbang dan harap

lalu di ujung malam sana
kita sama mengukir nama
di sebuah nisan
sebagai nota penanda akhir kisah kita

06 Nopember 2010

Lebih Baik Memaafkan

Oleh Arif Srabi Lor
Muhtar Muzayyin, atau acap dipanggil Muhtar. Ia pemuda sederhana, berpakaian ala kadarnya, tidak ngejeans, dan juga tidak suka pacaran layaknya pemuda zaman sekarang. Motor yang ia pakai adalah keluaran tahun tujuh puluh lima. Pemuda berusia duapuluh lima tahun ini, selain kuliah ia juga nyambi menjadi penjaga masjid.
Di balik tampangnya yang pas-pasan itu, ia memiliki pribadi yang unik. Ia senang bersilaturrahmi ke tempat teman-temannya yang suka menjadikannya bahan guyonan. Maklum, posturnya yang kecil dengan penampilannya yang khas memancing gelak tawa.
Suatu ketika ia bersilaturrahmi ke tempat temannya. Seperti biasa, ia pergi dengan motor jadulnya. Ketika bersilaturrahmi, Muhtar merasa tidak ada kejanggalan, karena sudah terbiasa main ke situ. Beberapa hari berikutnya, ia diajak ke suatu tempat oleh teman yang sering ia kunjungi.
Di tempat itu ia ditanya tentang kasus uang temannya yang hilang. Muhtar dituduh mengambilnya. Spontan ia ketakutan dan tidak bisa berbu…

Taburan Bunga

Oleh Arif Srabi Lor

lihatlah, angin yang bertiup malam ini
ia berduka atas sebuah kisah yang telah purna
ia menyibak malam yang hitam
memetik bunga-bunga layu berlumur debu

lihatlah, di atas sana
awan tak kuat menahan tangis
ia mengisak meneteskan gerimis
bersama kelelawar yang samar
mereka hendak berziarah

lihat juga taman di pelataran
taburan bunga turut berduka
untuk mendiang kisah kita.

06 Desember 2010

Lupa Jalan Pulang

Oleh Arif Srabi Lor

kau jahat
menelantarkanku pada sepi yang sangat
pada malam yang semakin matang
dan kau tak pulang-pulang

hingga hitam menghilang
dan pagi datang menjelma siang
kau menghilang
meninggalkanku malang

dan semalaman
aku hanya menikmati tubuhmu yang diam
pada kanvas yang ku pajang di kamar
dan tubuhmu yang bicara pergi entah ke mana

diam-diam aku menyimpan durja
barangkali kau pulang bersama senja
dan kaupun tak datang juga
kini durja merupa rindu yang cemas
menantimu sampai air mata segelas

barangkali kau tak jahat
kau hanya tak kuat
jalan kaki denganku
lalu pergi dariku

ah, biar ku artikan saja
kau lupa jalan pulang.

08 Desember 2010

Air Mata yang Belum Sempat Ku Hapus

Oleh Arif Srabi Lor
tubuh lemas memaksaku malas
berjam-jam diam dalam pejam
memeram luka kemarin malam
yang makin panas

kawanan serangga hingar bingar
melihat mataku yang memerah, nanar
suaranya penuh tawa
menohok dada memerahkan telinga

aku ingin menangis sekeras tangis
seperti petir mengantar gerimis
namun isakku kian tak terdengar
kalap dalam luka yang amat perih

tapi malam mencoba menghibur
dengan kantuk ia menabur
pada mataku yang kian kabur
oleh air mata yang makin mengguyur

lalu kucoba terima ajakan malam
agar aku tidak karam
dalam wajah buram
dan, tetap saja sedih mencekam

sepanjang malam
sesak dengan isakan
dan tanganku yang malas
belum sempat menghapus
air mata yang bercucur terus.

09 Desember 2010

Salah Jalan

Oleh Arif Srabi Lor

berjam-jam di perjalanan tak ku dapat satu alamat
langkah-langkah mulai lunglai dan rapat
lalu ku kulum terik matahari yang menyengat
membakar kulit hingga berkarat

perlahan ku jejaki jalanan tak ku kenal
angin berdebu membuat nafas tersengal
lalu sesekali langkahku tercekal
aku lesu dan terjungkal

ingatan melambai-lambai mengajakku pulang
pada masa silam sebelum malang
tapi tubuh ini yang tak merestui
karena langkah tak panjang lagi

hati selalu marah dan berontak
memaksa tubuh yang sempat tergeletak
untuk terus melaju
ketimbang menanggung malu

betapa tak berarti sebuah penyesalan
aku terlanjur tersesat dalam kebingungan
lupa gang dan tikungan
dari awal aku salah jalan

30 Nopember 2010

Hikayat Danau

Oleh Arif Srabi Lor

masih ingatkah kau, kekasih?
saat temaram mendung di siang hari
kita sama menggembala rindu
dan kau nyaman disisiku

kita asyik bercerita
tentang cinta dan cita
tak sempat tangan bepegangan
tapi ku tahu kita sama tak tahan

lalu kau menatap wajahku
dan ku lihat rindu di lesung pipitmu
seperti magnet yang menarik kuat bibirku
dan kita saling bercumbu
dalam angan palsu

kulihat danau terpana
menyaksikan kita di rundung asmara
tapi sayang orang-orang datang
lalu kita menghilang

dengarkah kau, kekasih?
sebelum kita pulang
danau mengundang kita datang lagi
untuk menghatamkan tadarus cinta yang pernah kita awali.

30 Nopember 2010

Tentang Mimpi

Oleh Arif Srabi Lor

begitu malam datang
ku gantungkan sebuah harapan
tentang mimpi indah
bersama kekasih, kaukah?

lalu aku bersembunyi di balik sepi
sembari larut dalam angan tak pasti

kau datang
pelan-pelan
bersama bunga
yang kau selipkan di telinga

kau lah mimpi
yang ku nanti malam ini

4 Desember 2010

SARUNG

Oleh Arif Srabi Lor

betapa damainya hati
kala sarung menjadi teman sejati
yang setia menemani
kala bersujud pada Ilahi

bahwa sarung tak pernah bingung
kepada si empunya ia menggantung

orang-orang yang baik hati
sarung menutup auratnya rapi
ia lah nota suci
bagi mu'min sejati

tapi rasanya hati gersang
jika sarung sekadar ikat pinggang
tengah malam menghilang
pulang-pulang malang dihajar orang

ketahuan mencuri
babak belur tak dikasihani

bagaimana dengan pelaku korupsi?
barangkali negeri ini tak sampai hati
mereka berjas dan berdasi

coba pakai sarung
pasti mudah dikurung

ah aku bingung
negeri ini bak panggung
kejahatan dan maksiat
dipertontonkan kepada rakyat