Posts

Showing posts from November, 2010

Pensil yang Malang

Oleh Arif Srabi Lor
Pagi itu, Pensil, Pena, Penggaris dan alat-alat tulis lainnya sedang bercengkerama di atas sebuah meja. Mereka sama membincang tentang aktivitas yang telah mereka kerjakan selama seminggu ini. Perbincangan yang sangat menarik. "Aku diajak sama Rani ke sekolah dan menemaninya mengikuti beberapa lomba. Aku senang sekali bisa bertemu teman-teman baru Rani yang imut. Dan yang membuatku terkesan minggu ini, Rani mengajakku ke pameran lukisan. Uuh… asik deh pokoknya." Begitulah Si Pena Mengawali perbincangan di pagi yang masih hitam itu. "Kalau Aku sih biasa-biasa saja. Seperti biasanya aku menemani Rani ke sekolah sama Pena. Sayangnya, Aku sering di dalam tas tak seperti Pena yang selalu berada di saku Rani. Tapi aku cukup senang karena minggu ini banyak tugas Geometri dan Aku bisa menemaninya." Sahut Penggaris sambil mengkilatkan tubuhnya yang terbuat dari plastik. Kini tiba giliran Pensil untuk bercerita. Tapi dia tampak murung tak seperti kawan-kawan …

Ya Sin

Oleh Arif Srabi Lor

Ya,
menjadi akhir sebuah awalan
bertahan dari ujian
melengkung

seperti namamu yang berakhir ya
dengan keindahan makna
kau tercipta sempurna
seperti matahari di tatasurya

lalu bibirku tak lelah mendesis
dan sesekali menangis
rindu membiru kepada ya
dalam tadarus cinta

kau lah ya
yang ku rindu dan ku nanti
sebelu ku berfikir sin
lalu mati

29 Nopember 2010

Catatan yang Hilang

Oleh Arif Srabi Lor

usai pencarian yang amat melelahkan
jalan terjal dan jurang tertaklukan
pun di atas sana, awan
terus mengguyur hujan
dan angin yang tak berhenti menyampaikan dingin

semua tertunduk, merunduk
dan kini hadir di depan pelupuk
wajah asri berseri
cantik bagai bidadari

barangkali ini buah yang dijanjikan itu
benarkah?

sebelum orang-orang melihat
diam-diam aku mencatat
wajah cantik yang baru ku lihat
ku pilih hati untuk menggurat
karena pasti kertas tak muat
pun tak akurat

:hilang

lalu kubuka catatan di suatu malam
menjelang mata redam
ku tadaruskan dan ku dzikirkan
sebelum do'a ku gumamkan

aku heran
aku tersadar
ah...

barangkali terlalu jauh aku berangan
dan jatuh dalam jurang lamunan

wajah itu menghilang
catatanku hilang.

28 Nopember 2010

Dalam Tahanan Cinta

Oleh Arif Srabi Lor

aku mencatat riwayat
sebuah hayat
penuh luka lebam dan sayat
terbujur kaku bak mayat

menjelang luka
kau hantam aku dengan berpaling muka
aku dilema
lalu menderita

menjelang kaku
kau tabur harapan padaku
lalu kau bisu
dan menghianatiku

menjelang remuk
kau janjikan cinta sejuk
tapi kau dan masa lalumu rujuk
saat ku tagih kau mengamuk

aku bingung, linglung
kau abaikan aku terpasung
kau biarkan cintaku menggantung

di ruang gelap gulita
aku menahan derita
hidup sengsara
dalam tahanan cinta

26 Nopember 2010

Situs Malam Tanpa Mimpi

Oleh Arif Srabi Lor betapa malam kejam membuatku hampir karam dalam sepi yang hitam menyiksaku dengan kisah silam
sebuah kisah mengusik dan memaksaku gelisah sesekali menghilang di balik bintang lalu datang bersama gelisah yang lebih menantang
menjelang mimpi malam terasa sunyi gelap pekat berkabut sepi
kau tak datang lagi dan ku tahu itu pasti dan aku setia menantimu di setiap mimpiku
mata hatiku yang tak kuat menahan memeramkan kerinduan yang amat dalam dan biarlah kutitipkan pada gelap malam
betapapun gulita hati ini biarlah malam-malam ini menjadi situs malam tanpa mimpi
26 Nopember 2010

Untuk Za

Oleh Arif Srabi Lor

Za, barangkali aku terlalu percaya pada mimpi
hingga aku lupa kehidupan yang lebih nyata.
tapi mimpi itu terlanjur memperdayaiku
hingga hati ini sesak dengan rindu yang makin biru.

Za, aku hanya mencari setitik ketulusan hati
untuk menjawab rindu menggebu.
bukan segudang mimpi yang tak pasti.

Za, aku tak bisa memaksamu menjawab semua mimpiku.
pun kau takkan bisa. karena mimpimu bukan aku, yang memimpikanmu.

Za, biarlah kulukis kau di putih kanvasku
sebagai ganti, kau yang selalu ku nanti.
dan kau tak perlu menjawab
biarlah ia yang menjawab mimpi ini.

22 Nopember 2010

Hikayat Awan

Oleh Arif Srabi Lor

sebelum awan murung
ia seputih kapas menggantung di atas gunung
ia lah penanda ceria
saat langit jumpa sang surya

sebelum awan marah
angin dan petir saling serapah
lalu awan muntah
merusak sawah
menggenangi rumah-rumah

sebelum orang-orang berserah
awan akan tetap menjalankan titah
mengguyur
tak pandang umur

sesudah orang-orang pasrah
dan kepada Tuhan menyembah
awan tersenyum
memberi air minum

23 Nopember 2010

Kepada Air yang Mengalir

Oleh Arif Srabi Lor
wahai air yang mengalir
ku tuliskan secarik untukmu
dan kutitipkan pada sungai
agar kesalahpahaman antara kita
segera purna

wahai air yang mengalir
aku memujamu di kala beningmu
dan aku takut
kau yang secangkir
kan merubah jadi banjir
dan aku cemas saat kau jadi buas

wahai air yang mengalir
aku memujamu di kala tenangmu
dan aku khawatir
kau yang sejuk dipandang
kan merubah jadi bandang

aku takut kau keruh
dan rumah-rumah runtuh
aku takut kau bergelombang
nyawa-nyawa manusia di ambang

wahai air yang mengalir
tetaplah kau pada beningmu
tetaplah kau pada tenangmu
ikau  adalah sahabatku

22 nopember 2010

Adzan yang Malas Memanggil

Oleh Arif Srabi Lor

kau tak lihat?
aku masih setia menungguimu
pada waktu-waktu yang digaris untukmu
tapi  kau maki aku
tentang seruan yang ku lantunkan

barangkali orang-orang yang bersarung
mulai bosan menatap keangkuhanmu
kau hanya sebuah bangunan
dengan sajadah di alasmu
lebih sepi daripada warung
dengan jadah di seputaran meja

aku bukanlah Bilal
yang gagah
dengan ketulusan
melantunkan seruan
meluluhkan hati orang-orang yang beriman

aku curiga
barangkali sarung-sarung itu lah sebab
ia menutup sepasang telinga
dan membiaskan seruan
menjadi nyanyian menidurkan

kau tak lihat?
jika tak ku pekikkan seruan
yang memecah setiap dinding fajar
tak akan ada sarung-sarung yang datang
hanya burung-burung yang bersarang
tapi masih saja kau sepi
dan kau tuding-tuding aku sebab dari semua ini

bukan aku, tapi adzan yang malas memanggil

18 Nopember 2010

Aku Ingin Melihatmu Telanjang

Oleh Arif Srabi Lor

aku ingin melihatmu telanjang
dalam kesederhanaan
tanpa balutan kesombongan
tanpa sehelai sutera yang mempesona
menyihir dan memikat setiap pasang mata

aku ingin melihatmu telanjang
menemani perjalananku
tanpa lilitan cemas dan was-was
yang mengusik ketenangan

aku ingin melihatmu telanjang
di setiap senyuman
saat kau menatapku
tanpa topeng yang menutupi
tanpa rasa benci yang menggores hati

aku ingin melihatmu telanjang
tanpa sehelai benang
yang membuat kerut wajahmu
agar binar senyum tetap setia
membingkai indah wajahmu

aku ingin melihatmu telanjang
di setiap tutur katamu
tanpa kau tutupi
dengan lipstick kebohongan

aku ingin melihatmu telanjang
setiap kau di sisiku.

17 Nopember 2010

Ranjang Kesepian

Oleh A. Arif Srabi Lor

ku lihat ada rindu
menyelinap dan bersembunyi di balik selimut
pun bantal dan guling yang saling beradu
seolah melambai dan mengajak kita
untuk menengok lagi sebuah kisah
aku dan dirimu

bantal
sebelum kita datang, ia telah siap menunggu
menanti kisah-kisah yang sama
menjadi saksi
aku dan dirimu
berpeluh-peluh dalam kehangatan malam
tapi kita yang tak lagi datang
dan bantal kecewa

guling
sebelum tubuhmu yang merebah
ku tepikan guling di pantai ranjang kita
lalu kita berlayar
dan setelah tubuhku
dialah yang kau beri kemesraan
setelah kita berpisah di akhir pelayaran
dan ia setia menemani pejammu
sampai subuh yang menjanjikan sebuah harapan

aku mendengar ranjang, bantal dan guling
berulangkali mengadu
ia bercerita tentang sepi dan kekosongan
dan sesekali menyerapahi tubuh kita

yang telah menjadi kisah purba

yang kian hari semakin malas menemaninya

ku lihat ranjang yang mulai bosan
menunggu kita
ia mulai bosan dalam sepi
ia mulai rindu
pada malam-malam desah dan pel…